Kerugian Kecelakaan Diibaratkan Seperti Gunung Es, Inilah Kenapa Pengusaha Sering Terlena

Teori Gunung Es - Untuk membuktikan apakah Biaya yang dikeluarkan untuk Keselamatan Kerja termasuk "Pemborosan" atau "Investasi", Anda harus mengetahui kerugian apa saja yang bisa terjadi jika ada kecelakaan di tempat kerja...

Kerugian akibat kecelakaan kerja merupakan jumlah kerugian untuk korban ditambah dengan kerugian-kerugian lain (material dan non material) akibat dari kecelakaan tersebut.

Menurut Teori yang dikemukakan oleh Frank E Bird Jr, bahwa kerugian akibat kecelakaan diibaratkan seperti gunung es yang ada di air... bagian yang nampak di permukaan justru lebih kecil dibanding dengan bagian yang tidak terlihat...

Kerugian-kerugian akibat kecelakaan kerja  sendiri dikenal dengan Kerugian Langsung dan Kerugian Tidak Langsung

Teori Gunung Es ini menjelaskan bahwa bagian yang nampak di permukaan merupakan kerugian langsung (kerugian yang diasuransikan), sedangkan bagian yang tidak terlihat adalah kerugian tidak langsung (kerugian yang tidak diasuransikan).

Safety, Biaya langsung dan biaya tidak langsung akibat kecelakaan kerja, Direct cost and indirect cost incident, Teori gunung es biaya kecelakaan, Iceberg thoery incident cost, jenis biaya kecelakaan kerja,


Rasio Kerugian Langsung dan Kerugian Tidak Langsung Kecelakaan Menurut Heinrich

Pada tahun 1931, Heinrich merilis hasil study yang dilakukan pada tahun 1926 tentang biaya kecelakaan. Didapat bahwa rasio perbandingan biaya langsung dan tidak langsung adalah 1 : 4.

Heinrich menulis hasil penelitian dan analisa diperoleh bahwa biaya yang keluarkan jika terjadi kecelakaan adalah 4 kali lebih besar dibanding dengan biaya pengobatan pekerja yang mendapat cidera.

Rasio biaya kecelakaan ini banyak menjadi literatur di berbagai buku yang membahas mengenai kerugian kecelakaan. Walaupun penelitiannya dilakukan pada tahun 1926, namun hasil penilitian masih diakui banyak orang.

Kerugian Kecelakaan Menurut Frank E Bird Jr

Pada tahun 1974, Bird memperkenalkan teori gunung es tentang biaya kecelakaan. Pada teori gunung es ini, Bird Jr menerangkan bahwa Biaya dari kecelakaan sebenarnya dapat diukur dan dapat dikontrol. Teori Gunung es yang dikemukakan Bird Jr menunjukkan bahwa kerugian dari kecelakaan dikategorikan menjadi biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan.

Tahun 1985, F.E. Bird Jr. dan G.L. Germain mengemukakan biaya apa saja yang masuk ke dalam kategori biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan.

Iceberg - F.E. Bird Jr. dan G.L. Germain; 1985
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa biaya yang diasuransikan (biaya kompensasi dan biaya medis) cukup kecil bila dibandingkan dengan biaya yang tidak diasuransikan. 

Pada level terkecil, perbandingan antara biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan adalah 1 : 6. Dimana 1 merepresentasikan biaya diasuransikan, dan 6 adalah biaya yang tidak diasuransikan (5 untuk kerusakan harta benda + 1 untuk biaya lainnya).

Sedangkan untuk level maksimum, perbandingan antara biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan mencapai 1 : 53 (dimana 53 adalah 50 untuk biaya kerusakan harta benda + 1 untuk biaya lainnya)

Ini menjelaskan bahwa biaya yang tidak diasuransikan akibat kecelakaan yang terjadi bisa mencapai 53 kali lebih besar dibanding biaya kompensasi dan pengobatan korban.

Apa Saja Biaya Yang Termasuk Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung Kecelakaan..?

Untuk mengetahui biaya apa saja yang masuk ke Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung akibat Kecelakaan dapat mengacu pada teori gunung es di atas.

Biaya langsung (direct cost) merupakan biaya yang langsung dikeluarkan oleh perusahaan akibat kecelakaan yang terjadi, Sepeti biaya pengobatan pekerja yang cidera dan biaya kompensasi sesuai regulasi yang berlaku.

Yang termasuk biaya langsung adalah : Biaya pengobatan dan biaya kompensasi karyawan yang mendapat cidera.

Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) merupakan biaya lain diluar biaya langsung yang juga dihitung sebagai kerugian akibat kecelakaan. Biaya ini memang sulit untuk dihitung, namun bisa dikonversikan sehingga bisa dihitung.

Yang termasuk Biaya tidak Langsung Kecelakaan diantaranya:
  1. Biaya Kerusakan bangunan
  2. Biaya Kerusakan alat/mesin yang digunakan
  3. Biaya perbaikan peralatan
  4. Biaya karena terhentinya produksi
  5. Biaya karena banyaknya pekerja lain yang terhenti mengikuti investigasi
  6. Biaya dari pengawas yang juga ikut investigasi
  7. Akomodasi lainnya
  8. Biaya lembur karyawan
  9. dan lain-lain
Cukup banyak sekali biaya yang dikeluarkan akibat kecelakaan yang terjadi, itu semua dihitung sebagai kerugian dan akan mengurangi profit.

Mengapa Anda saya ajak membahas ini, tentu ini akan berkaitan dengan bagaimana Anda membuktikan bahwa Biaya / budget tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan "Pemborosan" atau "Investasi" (Kita akan ulas pada artikel selanjutnya)

Demikian pembahasan mengenai teori Gunung Es (Iceberg) yang membahsa mengenai biaya langsung dan biaya tidak langsung akibat kecelakaan kerja. Dengan mengetahui ini, harapannya sebagai Praktisi K3, kita jangan hanya melihat biaya langsung saja dalam mengkalkulasi kerugian kecelakaan. Namun, mengikutkan biaya tidak langsung yang sebenarnya lebih besar dalam total kerugian kecelakaan di statistik perusahaan.

Referensi :
  1. Rethinking ratios of Indirect to Direct Costs by Fred A. Manuele
  2. https://www.wcf.com/hidden-costs-accidents
  3. http://www.preston.gov.uk/businesses/health-and-safety/accidents/costs-accidents/

Keselamatan Kerja Itu "PEMBOROSAN" Atau "INVESTASI"..?

ROI of Safety - Keselamatan Kerja merupakan bagian yang tidak terpisah dari suatu bidang usaha, bahkan keselamatan kerja disebut sebagai hak bagi setiap pekerja untuk mendapatkan perlindungan saat bekerja sehingga bisa bekerja lebih aman dan tidak terjadi kecelakaan...

Yang jadi pertanyaan, apakah menerapkan keselamatan kerja menjadi mudah walaupun semua tahu bahwa keselamatan kerja itu penting...?

...Tidak juga..

Biaya Keselamatan Kerja, Budget untuk safety, Meyakinkan manajemen tentang keselamatan kerja, Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Safety, safety itu biaya atau investasi,


...kita melihat dari sisi pekerja terlebih dahulu..

walaupun perusahaan sudah menyediakan alat pelindung diri ataupun membuat peraturan yang bisa membantu karyawan agar lebih aman saat bekerja, masih juga ditemukan pekerja tidak mau memakai atau mengikuti aturan tersebut... dan yang terjadi adalah kecelakaan..

Terus dari sisi Manajemen... Meyakinkan manajemen terkait pentingnya safety lebih sulit dibanding dengan karyawan... terutama jika berkaitan dengan biaya..

Biaya yang dikeluarkan untuk Keselamatan Kerja dinilai menjadi biaya yang tidak menghasilkan profit bagi pemilik modal... oleh karena itu tidak jarang bahwa masih banyak manajemen perusahaan yang enggan mengeluarkan biaya untuk menunjang program Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


Biaya Keselamatan Kerja Adalah Sasaran Utama Efisiensi Biaya Operasional

Safety, Biaya Keselamatan Kerja, Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Budget untuk safety, Meyakinkan manajemen tentang keselamatan kerja, safety itu biaya atau investasi,

Paradigma manajemen seperti itu wajar saja.. karena tujuan dari bisnis adalah keuntungan...untuk mencapai keuntungan yang maksimal tentu operasional harus didesain lebih lean dengan meminimalkan biaya operasional...

Biaya-biaya yang tidak menghasilkan keuntungan akan ditekan, termasuk didalamnya adalah biaya tentang Safety..

Mengapa begitu...? Coba Anda lihat contoh kasus berikut..

"jika Anda membeli mobil dengan merk tertentu, coba bandingkan antara mobil dengan grade rendah dan grade yang tinggi, kira-kira apa yang membedakan sehingga harganya berbeda...?

Anda akan menemukan bagian-bagian yang berkaitan dengan Safety dihilangkan, misalnya Air bag, Seat Belt lebih jelek kualitasnya, dan lain-lain.

Itu menandakan bahwa aspek safety akan menjadi sasaran utama efisiensi biaya operasional...

Ini merupakan tugas Bagian Keselamatan Kerja untuk meyakinkan manajemen tentang biaya K3 merupakan suatu investasi bukan hanya biaya yang tidak menghasilkan keuntungan...sehingga bisa mengalokasikan biaya untuk aspek Keselatan Kerja.

Bagaimana Cara Meyakinkan Manajemen Tentang Biaya Safety Adalah Investasi..?

Safety, Biaya Keselamatan Kerja, Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Budget untuk safety, Meyakinkan manajemen tentang keselamatan kerja, safety itu biaya atau investasi,

Sekali lagi bahwa meyakinkan manajemen adalah tantangan besar, namun bukan berarti hal ini tidak mungkin.

Sebalum Anda mencoba meyakinkan manajemen terkait pentingnya biaya Safety, tentu Anda harus memiliki senjata yang tepat..

...Senjata yang paling ampuh adalah Menunjukkan besarnya Keuntungan jika menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja...

Sebelum Anda mengajukan alasan ke manajemen, tentu Anda harus mengumpulkan biaya-biaya jika terjadi gangguan yang berkaitan dengan Keselamatan Kerja seperti kecelakaan dan karyawan sakit...

Anda harus mengkalkulasikan biaya langsung dan biaya tidak langsung pada suatu kasus kecelakaan..

...Sehingga Anda bisa mengkonversikannya dengan kerugian perusahaan jika tidak menerapkan Keselamatan Kerja...

 yang perlu disiapkan didalam melakukan analisa biaya pada suatu kecelakaan tentu Anda harus memahami apa itu biaya langsung dan biaya tidak langsung..

Untuk mengetahui lebih tentang biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam Kecelakaan akan kita bahas pada artikel selanjutnya..

Anda akan mengetahui seberapa besar biaya tidak langsung dibanding dengan biaya langsung kecelakaan.. Jika Anda menyajikan perhitungan yang rasional, maka meyakinkan manajemen tentang biaya Safety adalah Investasi bukanlah hal yang tidak mungkin..

Permenkes No 70 Tahun 2016 Tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Permenkes No 70 Tahun 2016 - Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan kembali mengeluarkan regulasi baru, peraturan ini mengatur tentang standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja.

Pengelolaan bahaya kesehatan di lingkungan kerja industri maupun pemenuhan persyaratan kesehatan lingkungan merupakan salah satu aspek penting dalam penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.

Safety, Permen, Permenkes no 70 tahun 2016, regulasi tentang standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja, Peraturan terbaru tentang kesehatan lingkungan kerja, Faktor fisik tempat kerja,


Lingkungan kerja industri yang sehat merupakan salah satu faktor yang menunjang meningkatnya kinerja dan produksi yang secara bersamaan dapat menurunkan risiko gangguan kesehatan maupun penyakit akibat kerja. Lingkungan kerja industri harus memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri sebagai persyaratan minimal yang harus dipenuhi.

Standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri terdiri atas nilai ambang batas, indikator pajanan biologi, dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri. Ketentuan mengenai standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri sebelumnya telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.

Namun demikian seiring dengan perkembangan industri yang pesat dengan melibatkan teknologi dan proses yang bervariasi, dapat berpeluang munculnya variasi bahaya kesehatan yang berpotensi memajan bekerja. Oleh karena itu perlu dilakukan penyesuaian atau perubahan terhadap Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/200.

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri sepanjang mengatur standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.


Untuk lebih jelas mengenai Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja dapat dilihat pada Lampiran Permenkes No 70 Tahun 2016 Tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Anda Alergi Makanan..? Tips Yang Bisa Anda Lakukan Di Tempat Kerja

Alergi merupakan masalah yang bisa terjadi pada siapapun, dampak yang ditimbulkan juga sangat bervariasi tergantung tingkat keparahan alerginya.. dari ringan sampai fatal yang memerlukan penanganan medis darurat..

Definisi dari alergi sendiri adalah bentuk reaksi kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap bahaya walaupun sebenarnya tidak, yang bisa berbentuk sesuatu yang masuk ke tubuh ataupun bersentuhan...

Alergen atau substansi pemicu alergi hanya berdampak pada orang yang memiliki alergi tersebut. Pada orang lain, alergen tersebut tidak akan memicu reaksi kekebalan tubuh. Beberapa jenis substansi yang dapat menyebabkan reaksi alergi meliputi gigitan serangga, tungau debu, bulu hewan, obat-obatan, makanan tertentu, serta serbuk sari.

Saat tubuh pertama kali berpapasan dengan sebuah alergen, tubuh akan memproduksi antibodi karena menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Jika tubuh kembali berpapasan dengan alergen yang sama, tubuh akan meningkatkan jumlah antibodi terhadap jenis alergen tersebut. Hal inilah yang memicu pelepasan senyawa kimia dalam tubuh dan menyebabkan gejala-gejala alergi.

Safety, Health, Cara mengatasi alergi makanan, Pengelolaan alergi makanan di tempat kerja, Gejala-gejala alergi, Dampak alergi makanan, Alergi, Obat Alergi,


Gejala Yang Ditimbulkan Saat Mengalami Alergi

Ada beberapa gejala alergi yang umum terjadi, antara lain:
  • Bersin-bersin.
  • Batuk-batuk.
  • Sesak napas.
  • Ruam pada kulit.
  • Hidung beringus.
  • Terjadi pembengkakan di bagian tubuh yang berpapasan dengan alergen, misalnya wajah, mulut dan lidah.
  • Gatal dan merah pada mata.
  • Mata berair.
Bagaimana Langkah Pengendalian Jika Anda Mengalami Alergi Makanan Di Tempat Kerja

Memiliki alergi terhadap makanan saat di temat kerja bisa berdampak kurang baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap pekerjaan. terutama jika dampak alerginya sangat parah atau sering disebut dengan anafilaksis. Jika tidak tertolong dapat berakibat kematian pada penderitanya.

..Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko di tempat kerja jika Anda memiliki alergi terhadap makanan.

Langkah Yang Perlu Anda Lakukan Jika Memiliki Keluhan Alergi Makanan

  • Jika Anda merupakan pekerja baru pada suatu tempat kerja, tentu Anda wajib memberitahukan tentang keluhan alergi Anda kepada atasan Anda.
  • Jelaskan secara detail tentang jenis alergen apa yang bisa menyebabkan Anda alergi dan tingkat keparahannya, gejala pada tubuh Anda. Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi..
  • Ceritakan ke rekan kerja Anda, Dimana Anda Meletakkan obat alergi Anda dan bagaimana menggunakannya saat terjadi kondisi darurat.
  • Cobalah untuk memberi label pada makanan Anda, sehingga Anda tidak salah dalam mengambilnya 
  • Jangan pernah memakan makanan yang menyebabkan alergi, walaupun hanya coba-coba..

Pengendalian terhadap alaergi makanan yang dialami oleh karyawan tentu tidak bisa dilakukan oleh karyawan saja.. manajemen pun bisa menunjukkan perhatiannya kepada karyawan dengan melakukan beberapa hal berikut:

  • Melakukan uji terhadap alergen tertentu kepada karyawan, sehingga bisa dipetakan seberapa banyak karyawan yang mengalami alergi dan jenis alerginya
  • Menyediakan makanan terpisah untuk karyawan yang mengalami alergi tertentu, atau membuat kebijakan lain yang memberikan solusi baik.
  • Fleksible dengan karyawan yang memiliki alergi, sewaktu-waktu mereka akan mengalami sakit karena alergi tersebut.
Tips mengatasi alergi di tempat kerja di atas tentu akan bisa membantu pekerja dan perusahaan untuk dapat meminimalkan risiko terjadinya kondisi darurat akibat terjadinya alergi pada makanan. Peran serta semua pihak dan keterbukaan karyawan terhadap jenis alergen dan keseriusannya akan memberikan solusi yang baik, selain itu pekerja yang memiliki alergi pada substansi tertentu diharapkan selalu membawa obat alerginya..

Silakan Share Jika Bermanfaat... 

Referensi:
http://www.safetyandhealthmagazine.com/articles/14666-managing-food-allergies-in-the-workplace
http://www.alodokter.com/alergi

Sebagai Bagian Keselamatan Kerja, Anda Harus Tahu Yang Mendasari Tindakan Tidak Aman

Human Error Dalam Keselamatan Kerja - Sebagai bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan penyebab kecelakaan. Menurut teori Domino yang dikemukakan oleh Heinrich, bahwa kecelakaan terjadi karena adanya Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) dan Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition)..

Teori ini menjadi cikal bakal munculnya teori terjadinya kecelakaan, dan sekitar tahun 70-an, Frank E Bird, Jr mengembangkan konsep baru tentang teori terjadinya kecelakaan. Konsep ini tidak jauh berbeda dengan yang dikeluarkan oleh Heinrich, hanya saja faktor Tindakan Tidak Aman dan Kondisi Tidak Aman dimasukkan ke dalam penyebab langsung.. karena Bird menganggap bahwa Penyebab dasar (Basic Cause) merupakan Faktor yang berasal dari manajemen..

Safety, Bagaimana terjadinya kecelakaan, Penyebab seseorang melakukan kesalahan, Teori terjadinya kecelakaan, Fakotr yang mempengaruhi human error, Jenis pelanggaran yang mengakibatkan kecelakaan,


Pada artikel kali ini, DarmawanSaputra.Com akan membahas mengenai Tindakan Tidak Aman. Faktor kecelakaan yang satu ini memiliki pengaruh yang besar terhadap kecelakaan yang terjadi.. Menurut Heinrich, bahwa  Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) menyumbang sebesar 80% dari Kecelakaan yang terjadi.

Jika Anda bagian Keselamatan Kerja, Anda pun bisa membuktikan dengan Statistik Kecelakaan di tempat kerja Anda... walaupun hasilnya tidak harus sesuai 80%, namun Tindakan Tidak Aman menjadi kontributor terbesar...

Kesalahan Manusia (Human Error) Merupakan Bentuk Kegagalan Manusia (Human Failure)

Banyak praktisi dan ahli mencoba mendefinisikan mengenai Kesalahan Manusia (human error), namun belum ditemukan pengertian yang cocok untuk menggambarkan human error..

Pada akhirnya, semua ahli sepakat untuk membahas bersama-sama bagaimana Human Error itu bisa didefinisikan.. dan di dapat hasil bahwa..

A Human error is the performance of task such that task’s goal can not achieved and the failure to achieve the goal can not attributed to factors beyond the human operator control.

Kesalahan manusia merupakan kegagalan manusia dalam melakukan suatu tugas sehingga tujuannya tidak dapat dicapai, kegagalan mencapai tujuan ini bukan disebabkan oleh faktor diluar kendali manusia tersebut.

Kegagalan Manusia (Human Failure) Juga Sering Disebut Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act)

Di dalam HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) menguraikan bahwa kegagalan manusia (human failure) atau juga disebut sebagai tindakan tidak aman (unsafe acts) pada dasarnya terdiri dari dua katagori, yaitu kesalahan manusia (human error) dan pelanggaran (violation).

Kesalahan manusia (human error) adalah representasi dari suatu kegiatan mental dan fisik seseorang yang tidak berhasil melakukan sesuatu yang di inginkan. Sedangkan pelanggaran (violation) menunjukkan adanya keinginan untuk mengabaikan petunjuk atau aturan yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu tugas tertent.

Klasifikasi Human Errors, James Reason 1990

Konsep yang dikemukakan oleh James Reason di atas, bahwa di dalam Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) bisa disebabkan karena Human error ataupun pelanggaran (violation).

Bagaimana Human Error Bisa Terjadi...

Human error sendiri diartikan sebagai ketidak sengajaan pada tindakan atau keputusan yang dipengaruhi oleh keterampilan (skill based errors) dan juga kesalahan (mistake).

Kesalahan yang disebabkan oleh keterampilan, dapat membuat seseorang melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan rencana awal atau sering disebut dengan "Slips of Action" dan juga Lupa melakukan sesuatu yang harus dilakukan dalam suatu tugas/aktivitas yang sering disebut dengan "Lapses of Memory".

Sedangkan kesalahan dalam memutuskan (Mistake), dibagi menjadi 2 yaitu kesalahan yang didasari karena aturan (rule based mistake) dan kesalahan yang didasari karena pengetahuan (knowledge based mistake).

Rule based mistake merupakan kesalahan manusia karena tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dilakukan atau melakukan suatu aktivitas yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Knowledge based mistake merupakan kesalahan manusia yang disebabkan karena tidak dmilikinya pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu aktivitas atau tugas.

Yang Cukup Menghawatirkan Adalah Pelanggaran (Violation)

Pelanggaran (violation) merupakan Kegagalan yang disengaja, pelaku sengaja melakukan hal yang salah atau tidak diperbolehkan.

Di dalam beberapa kasus kejadian kecelakaan, pelanggaran memegang peranan yang besar terhadap terhadap terjadinya kecelakaan.

Alasan yang sering muncul adalah "Saya tidak punya alasan lain untuk tidak melakukan hal tersebut" atau "Saya tidak perduli dengan konsekuensi yang akan saya terima".

Pelanggaran ini bisa berupa pelanggaran yang sudah dianggap menjadi kebiasaan (Routine), penggaran karena kondisi tertentu (situational seperti cuaca, peralatan kerja yang tidak sesuai, dan lain-lain), serta mengambil keputusan yang tidak sesuai aturan karena adanya kondisi darurat (exceptinal).

Demikian pembahasan mengenai Kegagalan Manusia (human failure) yang sering disebut dengan Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) dalam konsep terjadinya kecelakaan. Bisa disimpulkan bahwa seseorang melakukan suatu kegagalan sehingga mengakibatkan kecelakaan bisa didasari karena adanya ketidak sengajaan (human error) yang disebabkan karena keterampilan, peraturan, maupun pengetahuan dan juga kegagalan karena disengaja atau sering disebut dengan pelanggaran (violation).

Referensi:
http://www.hse.gov.uk/

3 Metode Analisa Risiko Yang Sering Digunakan Pada HIRA / IBPR

Manajemen Risiko Perusahaan - Proses manajemen risiko memerlukan analisa terhadap risiko-risako yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitas atau pekerjaan, analisa ini bertujuan untuk menentukan seberapa besar nilai risiko yang mungkin bisa terjadi. Metode analisa risiko yang dilakukan dalam menajemen risiko sangat tergantung dari ketersediaan data, sumber informasi, dan tujuan analisa risiko yang dilakukan. Metode yang digunakan dapat berupa analisa Kualitatif, Semi-Kuantitatif, dan Kuantitaif, atau bahkan bisa kombinasi antar ketiga metode tersebut.

HIRA / IBPR, Metode analisa dalam IBPR, Analisa yang digunakan dalam Identifikasi Bahaya, Cara menganalisa risiko, Metode Kuantitatif Kualitatif dan Semi Kuantitatif


Analisa Kualitatif (Qualitative Analysis)

Analisa Kualitatif merupakan analisa yang dilakukan dengan menggunakan skala deskriptif atau kata-kata untuk menggambarkan besarnya risiko yang dapat terjadi. Skala yang digunakan pada analisa risiko secara kualitatif dapat disesuaikan dengan keadaan yang ada pada perusahaan. Deskripsi masing-masing risiko harus jelas dan tentunya memerlukan kesepakatan dengan semua pemangku kepentingan agar tidak terjadi perbedaan persepsi yang signifikan.
Penggunaan analisa kualitatif meliputi beberapa hal berikut: 
  1. Sebagai kegiatan awal untuk mengidentifikasi risiko yang membutuhkan analisa lebih detail.
  2. Ketika nilai risiko yang ada tidak menjelaskan tentang rentang waktu dan usaha yang diperlukan untuk analisa yang lebih lengkap.
  3. Dilakukan apabila kelengkapan data tidak memadai untuk melakukan analisa kuantitatif.

Analisa Semi-Kuantitatif (Semi-Quantitative Analysis) 

Di dalam analisa semi-kuantitatif, skala-skala deskripsi yang digunakan dalam analisa kualitatif diberi nilai, namun nilai-nilai yang diberikan tidak mesti menggambarkan besarnya kemungkinan dan konsekuensi yang sesungguhnya. Nilai-nilai ini untuk memberikan acuan prioritas dari deskripsi yang digunakan dalam analisa kualitatif.

Karena pemberian nilai pada analisa semi-kuantitatif ini belum tentu menggambarkan risiko yang sebenarnya, maka perlu adanya perhatian khusus agar hasil analisa lebih valid dan konsisten. Ketepatan hasil analisa pada Analisa semi-kuantitatif ini sangat tergantung pada pengalaman orang yang melakukan analisa.

Sebagian praktisi akan mempertimbangkan menggunakan Frekuensi dan Probabiliti untuk menggantikan Likelihood, Kemungkinan (likelihood) didapat dari kombinasi kedua elemen tersebut (Frequensi dan Probability).

Frekuensi paparan menggambarkan sejauh mana sumber risiko itu ada, sedangkan probability menjelaskan tentang kemungkinan terjadinya kontak dengan risiko. Oleh karena itu sering dikenal dengan Risk Assesment 2 dimensi dan 3 dimensi. Risk Assesment 2 dimensi adalah Likelihood x Consequency dan Risk Assesment 3 Dimensi Frequency x Probability x Severity.

Analisa Kuantitatif (Quantitative Analysis)

Pada analisa kuantitatif sudah menggunakan data numerik, bukan lagi menggunakan deskripsi seperti pada analisa Kualitatif dan Semi Kuantitatif. Oleh karena itu kualitas analisa sangat tergantung dari kelengkapan dan keakuratan data yang tersedia.

Konsekuensi dapat dihitung dengan menggunakan metode modeling hasil dari kejadian atau kumpulan kejadian atau dengan mempekirakan kemungkinan dari studi eksperimen atau data sekunder/ data terdahulu. Probabilitas biasanya dihitung sebagai salah satu atau keduanya (exposure dan probability). Kedua variabel ini (probabilitas dan konsekuensi) kemudian digabung untuk menetapkan tingkat risiko yang ada. Tingkat risiko ini akan berbeda-beda menurut jenis risiko yang ada.

Permenaker No 38 Tahun 2016 Tentang K3 Pesawat Tenaga dan Produksi

Permenaker No 38 Tahun 2016 - Peraturan terbaru yang dikeluarkan oleh Menteri Ketenagakerjaan ini mengatur tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Tenaga dan Produksi.

Peraturan Menteri ini mengganti Permenakertrans No.PER. 04/MEN/1985 tentang Pesawat Tenaga dan Produksi dan beberapa surat edaran.

Regulasi Pemerintah, Permen, Permenaker no 38 tahun 2016 tentang pesawat tenaga dan produksi, syarat k3 pesawat tenaga dan produksi, jenis pesaawat tenaga dan produksi, regulasi terbaru tentang pesawat tenaga dan produksi,


Pesawat Tenaga dan Produksi adalah pesawat atau alat yang tetap atau berpindah-pindah yang dipakai atau dipasang untuk membangkitkan atau memindahkan daya atau tenaga, mengolah, membuat bahan, barang, produk teknis, dan komponen alat produksi yang dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.

Yang termasuk Pesawat Tenaga dan Produksi pada Permenaker No 38 Tahun 2016 diantaranya:
  1. Penggerak Mula
  2. Mesin Perkakas dan Produksi
  3. Transmisi tenaga Mekanik
  4. Tanur
Penggerak Mula merupakan suatu pesawat yang mengubah suatu bentuk energi menjadi tenaga mekanik yang digunakan untuk menggerakkan pesawat atau mesin. Penggerak Mula diantaranya adalah Motor Bakar, Turbin, Kincir Angin, atau motor penggerak lainnya.

Mesin Perkakas dan produksi merupakan pesawat atau alat untuk membuat, menyiapkan, membentuk, memotong, mengepress, menarik, menempa, menghancur, menggiling, menumbuk, merakit, dan/atau memproduksi barang, bahan, dan produk teknis. Mesin perkakas dan produksi diantaranya adalah mesin asah, mesin poles dan pelicin, mesin tuang dan cetak, mesin tempa dan pres, mesin pon, mesin penghancur, mesin penggiling dan penumbuk, serta mesin lain yang sejenis (dapat dilihat di permenaker 38 tahun 2016).

Transmisi tenaga mekanik merupakan bagian peralatan mesin yang berfungsi untuk memindahkan daya atau gerakan mekanik dan penggerak mula ke pesawat atau mesin lainnya. Transmisi Mekanik meliputi transmisi sabuk, Transmisi rantai, dan transmisi roda gigi.

Tanur merupakan pesawat yang bekerja dengan cara pemanasan dan digunakan untuk mengolah, memperbaiki, atau mengubah sifat logam, barang atau produk teknis. Tanur meliputi Blast Furnace, Basic Oxygen Furnace, electric arc furnace, refractory furnace, tanur pemanas (reheating furnace), kiln, oven, dan furnace lain sejenis.

Untuk dapat mengetahui persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Tenaga dan Produksi dapat dilihat pada Permenaker No 38 Tahun 2016 tentang K3 Pesawat Tenaga dan Produksi.

Langkah Dalam Melakukan Management Of Change (MOC)

Manajemen Perubahan - Setelah mengetahui perubahan apa saja yang memerlukan Management of Change (MOC), maka pada Artikel kali ini darmawansaputra.com akan membahas mengenai langkah-langkah dalam membuat manajemen perubahan (management of change). Begitu banyak perubahan yang memerlukan analisa menggunakan proses MOC namun tidak dilakukan dengan alasan yang berbeda-beda, salah satu alasan yang paling sering adalah tidak mengetahui bagaimana proses management of change itu dan langkah-langkah yang harus dilakukan.

Artikel tentang Management of Change (MOC), Change management, Langkah membuat MOC, Pengelolaan terhadap perubahan, Safety, Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan perubahan


Begitu pentingnya Melakukan MOC untuk setiap perubahan yang dilakukan agar tidak menimbulkan potensi bahaya baru akibat perubahan yang dilakukan sehingga setiap pekerja harus mengetahui dengan baik cara membuat dan langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk membuat pengelolaan dari perubahan yang dilakukan menggunakan prosedur MOC. Berikut beberapa langkah yang harus dilakukan dalam Management of Change (MOC):

1. Identifikasi Masalah dan Peluang Perubahan

 
Peluang perubahan biasanya muncul karena adanya permasalahan, identifikasi semua permasalahan yang dihadapi pada setiap pekerjaan. Terima semua masukan yang diberikan oleh pekerja, dan jangan pernah mengenyampingkan masukan dari siapapun.

Cari ide perbaikan dari setiap masalah yang ditemukan, ajak diskusi semua pekerja yang terlibat agar menjadi bagian dari proses MOC (management of Change)...

2. Evaluasi Tujuan Perubahan


Langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan dari perubahan yang dilakukan, ada beberapa tujuan perubahan diantaranya : Membuat pekerjaan lebih efisien, lebih cepat, ataupun lebih aman.

Lakukan perubahan yang praktis, dan sangat diutamakan dapat dilakukan dengan tidak melakukan penyetopan pekerjaan dalam lingkup yang luas....

Gunakan sistem yang ada, lakukan analisa pada sistem yang ada... Apakah ada yang bisa dilakukan dengan lebih efisien. Sehingga tidak perlu melakukan perubahan yang menyeluruh...

Jika sistem yang ada tidak bisa mendukung perubahan, maka diperlukan analisa secara menyeluruh agar tujuan dari perubahan dapat tercapai....

3. Analisa Akar Masalah (Root Cause)

Artikel tentang Management of Change (MOC), Change management, Langkah membuat MOC, Pengelolaan terhadap perubahan, Safety, Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan perubahan

Lakukan analisa masalah yang menimbulkan suatu proses tidak berjalan sebagai mana mestinya, sehingga perubahan yang dilakukan bisa berjalan dengan baik dan dapat menjadi solusi untuk masalah yang diidentifikasi..

Berikan data-data untuk mendukung analisa yang dilakukan agar tujuan perubahan lebih jelas...

...Termasuk diantaranya adalah pemenuhan prosedur keselamatan ataupun gambar-gambar pendukung....


4. Mintalah Persetujuan


Setelah ide perbaikan sudah didapat dan diyakini dapat menyelesaikan masalah, mintalah persetujuan dari manajemen dan pihak-pihak yang terlibat (Stake holder).

5. Beritahu Semua Pihak Yang Terlibat

Perbahan mungkin saja akan menimbulkan dampak, oleh karena itu berikan informasi kepada semua pihak yang mungkin terkena dampaknya...

Beritahukan perubahan yang sedang dilakukan dan tujuan yang akan dicapai dari perubahan tersebut...


6. Implementasikan Perubahan Yang Dibuat

Setelah semua persyaratan administrasi telah disetujui, dan rencana perubahan sudah diberitahukan kepada semua pihak yang terdampak.. Langkah selanjutnya adalah melakukan rencana perubahan...

Lakukan setiap tahapan perubahan sesuai dengan rencana,,,


7. Lakukan Pemantauan Terhadap Perubahan

Lakukan pemantauan pada setiap prosesnya, catat semua permasalahan yang timbul pada saat proses perubahan. Hal ini akan diperlukan saat melakukan analisa nantinya...

Lakukan pemantauan atau penilaian pasca perubahan dilakukan, tujuannya adalah untuk memperbaiki proses yang mungkin belum berjalan secara sempurna..

Langkah membuat Management of Change - Itulah 7 Langkah adalam melakukan pengelolaan perubahan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa MOC dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan. Sehingga masalah-masalah yang sebelumnya ada, bisa terselesaikan...

Referensi : Management of Change - S.E.A.L International

Permenaker No 37 Tahun 2016 Tentang K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbun

Permenaker No 37 Tahun 2016 - Regulasi terbaru yang dikeluarkan Oleh Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia ini mengatur tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bejana Tekanan dan Tangki Timbun.

Peraturan Menteri ini mengganti Permenakertrans No.Per 01/MEN/1982 dan Surat Edaran Menakertrans No.SE.06/MEN/1990.

Permen, Permenaker No 37 Tahun 2016, K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbun, Syarat Bejana Tekanan, Syarat Tangki Timbun Bahan Bakar,

"Bejana Tekanan adalah bejana selain pesawat uap yang di dalamnya terdapat tekanan dan dipakai untuk menampung gas, udara, campuran gas, atau campuran udara baik dikempa menjadi cair dalam keadaan larut maupun baru."

"Tangki Timbun adalah bejana selain bejana tekanan yang menyimpan atau menimbun cairan bahan berbahaya atau cairan lainnya, di dalamnya terdapat gaya tekan yang ditimbulkan oleh berat cairan yang disimpan atau ditimbun dengan volume tertentu."

Tujuan dari pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan kerja Bejana Tekanan dan tangki timbunan adalah :
  1. Melindungi tenaga kerja dan orang lain yang berada di tempat kerja dari potensi bahaya pada bejana tekanan dan tangki timbun.
  2. Menjamin dan memastikan bejana tekana  dan tangki timbun aman untuk mencegah terjadinya peledakan, kebocoran, dan kebakaran.
  3. Menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat untuk meningkatkan produktivitas.
Pelaksanaan syarat-syarat K3 Bejana Tekanan atau Tangki Timbun  meliputi kegiatan perencanaan, pembuatan, pemasangan, pengisian, pengangkutan, pemakaian, pemeliharaan, perbaikan, modifikasi, penyimpanan, dan pemeriksaan serta pengujian.

Yang Termasuk Bejana Tekanan Menurut Permenaker No 37 Tahun 2016, diantranya:
  1. Bejana penyimpanan gas, campuran gas;
  2. Bejana penyimpanan bahan bakar gas yang digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan;
  3. Bejana transport yang digunakan untuk penyimpanan atau pengangkutan;
  4. Bejana proses; dan
  5. Pesawat pendingin.
Bejana Tekanan di atas mempunyai tekanan lebih dari 1 kg/cm² {satu kilogram per sentimeter persegi) dan volume lebih dari 2,25 (dua koma dua puluh lima) liter.

Sedangkan untuk tangki timbun meliputi:
  1. Tangki penimbun cairan bahan mudah terbakar yang memiliki volume paling sedikit 200 (dua ratus) liter.
  2. Tangki penimbun cairan bahan berbahaya; dan
  3. Tangki penimbun cairan yang memiliki volume paling sedikit 450 (empat ratus lima puluh) liter dan/atau temperatur lebih dari 99 °C (sembilan puluh sembilan derajat celcius).
Untuk mengetahui lebih jelas persyaratan K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbun dapat dilihat pada Permenaker No 37 Tahun 2016 Tentang K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbun

Apa Itu Good Mining Practice (GMP), Dan Bagaimana Penerapannya

Safety, Cara penambangan yang baik, metode penambangan yang benar, good mining practice, tata cara penambangan yang berkelanjutan, sustainable mining,

Tata Cara Penambangan Yang Baik - Good Mining Practice (GMP) memang menjadi satu hal yang banyak diterapkan di dunia pertambangan, teknik pertambangan yang baik (GMP) memberikan banyak manfaat bagi keberlangsungan industri pertambangan. Dengan menerapkan Good Mining Practice, maka perusahaan pertambangan akan fokus pada 5 aspek yang ada dalam GMP ini.

Sesuai dengan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, ada 5 aspek yang perlu dilaksanakan dalam Good mining Practice (GMP) yaitu:
  1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan (K3 Pertambangan)
  2. Keselamatan Operasi Pertambangan (KO Pertambangan)
  3. Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Pertambangan, Termasuk Reklamasi dan Pasca Tambang
  4. Upaya Konservasi Sumberdaya Mineral dan Batubara
  5. Pengelolaan sisa tambang dari suatu kegiatan usaha pertambangan bai cair, padat, gas sampai memenuhi baku mutu lingkungan.
Jika melihat aspek yang tercantum dalam UU No 4 Tahun 2009, maka teknik pertambangan yang baik (GMP) bukan hanya semata menata tambang menjadi rapi, namun juga sangat memperhatikan aspek K3, KO dan Lingkungan, serta Sustainable Mining dengan melakukan konservasi terhadap sumberdaya yang ditambang.

1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan

Safety, Cara penambangan yang baik, metode penambangan yang benar, good mining practice, tata cara penambangan yang berkelanjutan, sustainable mining,
 
Teknik pertambangan yang baik (Good Mining Practice) dituntut untuk dapat menjalankan kaidah keselamatan dan kesehatan kerja dengan memperhatikan regulasi-regulasi yang ada untuk menjamin keselamatan pekerja. Perusahaan diminta untuk melakukan pengelolaan terhadap operasional dengan cara:
  1. Melakukan Identifikasi bahaya pada semua aktifitas yang akan dikerja untuk dapat melakukan pengendalian yang tepat sehingga tidak mengakibatkan kecelakaan.
  2. Membuat prosedur operasi atau prosedur kerja yang mengatur tentang tata cara kerja dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja dan regulasi yang berlaku.
  3. Mengatur tentang tata cara kerja khusus seperti bekerja di ketinggian, bekerja dalam ruang terbatas (confined space), bekerja di dekar air, dan lain sebagainya.
  4. Menetapkan dan memberikan Alat pelindung diri dan alat keselamatan kepada pekerja
  5. Melakukan pengelolaan terhadap lingkungan kerja
  6. Melakukan Pengelolaan terhadap Kesehatan Kerja
Memastikan kompetensi pekerja untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu melalui pendidikan dan pelatihan serta memasang tanda-tanda/rambu terkait keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Keselamatan Operasi Pertambangan

Safety, Cara penambangan yang baik, metode penambangan yang benar, good mining practice, tata cara penambangan yang berkelanjutan, sustainable mining,

Selain K3 Pertambangan, Aspek yang perlu diperhatikan dalam menerapkan Teknik Pertambangan Yang Baik (Good Mining Practice) adalah Keselamatan Operasi Pertambangan (KO Pertambangan).

Keselamatan Operasi Pertambangan bertujuan untuk menjamin dan melindungi operasional tambang yang aman, efisien, dan produktif. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan beberapa upaya berikut:
  1. Pengelolaan sistem dan pelaksanaan pemeliharaan/perawatan sarana, prasarana, instalasi, dan peralatan pertambangan
  2. Melakukan Pengamanan Instalasi (Kelistrikan, Hydraulic, Pneumatic, dan lain-lain)
  3. Menjamin Kelayakan Sarana, Prasarana, Instalasi, dan Peralatan Pertambangan
  4. Memenuhi Kompetensi Teknik pekerja untuk dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan aman
  5. Melakukan Evaluasi terhadap kajian teknis pertambangan

3. Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan

Safety, Cara penambangan yang baik, metode penambangan yang benar, good mining practice, tata cara penambangan yang berkelanjutan, sustainable mining,

Suatu industri pertambangan yang telah melaksanakan kaidah penambangan yang baik (Good Mining Practice) harus senantiasa memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup dengan tetap berwawasan lingkungan. Segala mecam bentuk perijinan terkait lingkungan harus dipenuhi termasuk di dalamnya adalah AMDAL atau UKL/UPL.

Aspek dampak pada setiap kegiatan harus dilakukan identifikasi serta perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan dengan tujuan untuk memperkecil dampak negatif yang dapat ditimbulkan. Pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan dapat berupa:
  1. Kualitas Air Sungai
  2. Kualitas Udara
  3. Emisi
  4. Kebisingan dan Getaran
  5. Potensi Air Asam Tambang
  6. Keanekaragaman Flora dan Fauna
  7. Kualitas Tanah
  8. dan lain-lain
Selain itu, pengelolaan lahan bekas tambang juga perlu untuk dilakukan termasuk didalamnya kegiatan reklamasi dan pasca tambang..


4. Konservasi Sumberdaya Mineral dan Batubara

Safety, Cara penambangan yang baik, metode penambangan yang benar, good mining practice, tata cara penambangan yang berkelanjutan, sustainable mining,

Suatu perusahaan yang menerapkan Good Mining Practice juga perlu memperhatikan ketersediaan sumberdaya yang ada, jika melihat sifat dasar mineral dan batu bara yang merupakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable), maka perlu dilakukan konservasi agar industri pertambangan tetap sustainable.

Sesuai dengan PP 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara pasal 25, bahwa pengawasan Konservasi sumberdaya Mineral dan Batubara paling sedikit harus mencakup:
  1. Recovery Penambangan dan Pengelolaan
  2. Pengelolaan dan/atau pemanfaatan cadangan marginal
  3. Pengelolaan dan/atau pemanfaatan batubara kualitas rendah dan mineral kadar rendah
  4. Pengelolaan dan/atau pemanfaatan mineral ikutan
  5. Pendataan sumberdaya serta cadangan mineral dan batubara yang tidak tertambang
  6. Pendataan dan pengelolaan sisa hasil pengolahan dan pemurnian
5. Pengelolaan Sisa Tambang (Padat, Cair, Gas) agar Sesuai Baku Mutu Lingkungan

Untuk menjamin tidak terjadi penurunan kualitas lingkungan, maka semua sisa kegiatan usaha pertambangan harus dilakukan pengelolaan sebelum dilepas ke lingkungan. Pengelolaan dilakukan pada sisa tambang baik yang berupa padat, cair, maupun gas. Beberapa contoh pengelolaan sisa kegiatan usaha pertambangan adalah:
  1. Pengelolaan Air sisa pekerjaan dan Air Asam Tambang
  2. Pengelolaan PAF dan NAF
  3. Pengelolaan Limbah B3
  4. Pemantauan Emisi Gas Buang
  5. dan lain-lain
Good Mining Practice - Tata cara penambangan yang baik (Good Mining Practice) memberikan dampak yang besar bagi industri pertambangan, dengan diterapkannya GMP akan sangat membantu industri pertambangan menjadi berkelanjutan (sustainable mining). Mengingat bahwa mineral dan batubara merupakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui, maka suatu saat kegiatan penambangan akan terhenti. Namun diharapkan manfaat yang diberikan terus dapat dirasakan sampai kapanpun, oleh karena itu perlu penerapan Good mining practice agar penambangan dapat dilaksanakan dengan aman, efektif, dan produktif, serta kelestarian lingkungan tetap terjaga.