Bagaimana Life Cycle Perspective Di Dalam ISO 14001 Versi 2015

Life Cycle Perspective pada ISO 14001:2015 - Sistem Manajemen Lingkungan yang satu ini telah dilakukan perubahan dari Versi sebelumnya. Pada ISO 14001 tahun 2015 memiliki beberpa perbedaan dari ISO 14001 versi lama, salah satunya terdapat istilah Life Cycle Perspective (LCP), sehingga ini menimbulkan pertanyaan pada sebagian orang. Bagaimana bentuknya, dan bagaimana sebenarnya penerapannya..

Pada ISO 14001 versi 2004 hanya menyebutkan Siklus Hidup (life cycle) sebanyak 1 kali saja pada lampiran. Namun pada ISO 14001:2015 disebutkan sebanyak 18 kali, dan 7 diantaranya berbicara mengenai Perspektif.

environment, Life Cycle Perspective ISO 14001 2015, Perspektif Siklus Hidup dalam ISO 14001 2015, Bagaimana LCP di dalam Sistem Manajemen Lingkungan versi baru, Penerapan Siklus Hidup dalam ISO 14001 versi baru, Bukti penerapan Perspektif Siklus Hidup dalam ISO, ISO 14001 versi 2015,

Menurut ISO 14001, pendekatan secara sistematis terhadap pengelolaan lingkungan dapat memberikan keuntungan bagi Top Manajemen untuk membangun kesuksesan dalam jangka panjang dengan melakukan kontrol atau mempengaruhi, hal ini dimulai dari Organisasi merancang produk atau jasa, diproduksi, didistribusikan, digunakan/dikonsumsi serta dibuang.

Dengan adanya perspective ini, diharapkan dampak terhadap lingkungan akibat perubahan-perubahan yang tidak disengaja di tempat lain dapat dicegah.

Definisi Dari Siklus Hidup (Life Cycle)

Siklus Hidup (Life Cycle) adalah suatu urutan tahapan yang saling terkait dari suatu produk atau jasa, mulai dari bahan baku diperoleh hingga pembuangan akhir.

Adapun tahapan siklus hidup yaitu perolehan bahan baku, desain, produksi, transportasi/pengiriman, penggunaan, pemeliharaan, serta pembuangan akhir.

Mengapa Perlu Mempertimbangkan Perspektif Siklus Hidup (Life Cycle Perspective)

Dengan adanya persyaratan LCP ini, suatu organisasi diminta untuk tidak hanya berfikir dampak lingkungan yang berada di lingkar operasional saja. Melainkan lebih luas lagi bahkan sampai bagaimana pembuangan akhirnya.

Alasan ISO 14001 versi 2015 meminta pertimbangan LCP karena dampak lingkungan yang signifikan dari suatu organisasi dapat terjadi selama pengangkutan, pengiriman, pemakaian, pemeliharaan, dan pembuangan akhir dari suatu produk atau jasa yang dihasilkan.

Klausul Mana Yang Meminta Mempertimbangkan Perspektif Siklus Hidup dalam ISO 14001:2015  ?

Pada ISO 14001 versi terbaru tahun 2015 ada 2 klausa yang meminta suatu organisasi mempertimbangkan LCP, yaitu Klausa 6.1.2 Environmental aspects dan 8.1 Operational Planning and Control.

6.1.2 Environmental aspects
Within the defined scope of the environmental management system, the organization shall determine the environmental aspects of its activities, products and services that it can control and those that it can influence, and their associated environmental impacts, considering a life cycle perspective.

“8.1 Operational Planning and Control
…..
”Consistent with a life cycle perspective, the organization shall:

  1. establish controls as appropriate to ensure that its environmental requirement(s) are addressed in the design and development process for the product or service, considering each stage of its life cycle;
  2. determine its environmental requirement(s) for the procurement of products and services as appropriate;
  3. communicate its relevant environmental requirement(s) to external providers, including contractors;
  4. consider the need to provide information about potential significant environmental impacts associated with the transportation or delivery, use, end-of-life treatment and final disposal of its products and services.”

Bagaimana Bentuk Penerapan Life Cycle Perspective (LCP)

Di dalam ISO 14001 versi 2015 sendiri tidak dijelaskan secara detail bagaimana bentuk penerapan dari Perspektif Siklus Hidup itu, sehingga ini banyak menimbulkan kebingungan bagi organisasi yang menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan ini.

Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya yang diinginkan oleh ISO 14001 tentang LCP dapat dipelajari di dalam ISO 14004:2015 Implementation Guidelines
Practical help – Life cycle perspective
A life cycle perspective includes consideration of the environmental aspects of an organization’s activities, products, and services that it can control or influence. Stages in a life cycle include acquisition of raw materials, design, production, transportation/delivery, use, end of life treatment, and final disposal.
When applying a life cycle perspective to its products and services, the organization should consider the following:
  • the stage in the life cycle of the product or service,
  • the degree of control it has over the life cycle stages, e.g. a product designer may be responsible for raw material selection, whereas a manufacturer may only be responsible for reducing raw material use and minimizing process waste and the user may only be responsible for use and disposal of the product,
  • the degree of influence it has over the life cycle, e.g. the designer may only influence the manufacturers production methods, whereas the manufacturer my also influence the design and the way the product is used or its method of disposal,
  • the life of the product,
  • the organization’s influence on the supply chain,
  • the length of the supply chain, and
  • the technological complexity of the product.
The organization can consider those stages in the life cycle over which it has the greatest control or influence as these may offer the greatest opportunity to reduce resource use and minimize pollution or waste.

dari panduan yang diberikan oleh ISO 14004:2015 bahwa LCP mencakup pertimbangan aspek lingkungan dari aktivitas organisasi, produk atau jasa yang dapat dikendalikan atau dipengaruhi. Di dalam menerapkan LCP, suatu organisasi harus mempertimbangkan beberapa hal berikut:

1. Tahapan Siklus Hidup dari Suatu Produk atau Jasa

Untuk melakukan hal ini tentu organisasi harus mengidentifikasi rantai pasokan (Supply Chain) untuk mengidentifikasi dampak terhadap lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari rantai pasokan tersebut.

Selain itu, organisasi juga harus melihat rantai distribusi produk atau jasa yang dihasilkan sampai ke pengguna untuk mengidentifikasi dampak lingkungan dari penggunaan produk atau pembuangan akhir.

2.  Tingkat Kontrol Yang Dimiliki Selama Siklus Hidup

Misal, Seorang planner atau perancang produk bertanggung jawab atas pemilihan bahan baku, sedangkan bagian produksi bertanggung jawa terhadap effisiensi penggunaan bahan baku dan mengurangi limbah, sedangkan pengguna bertanggung jawab terhadp penggunaan produk dan pembuangan akhirnya.

3. Tingkat Pengaruh Yang Dimiliki Selama Siklus Hidup

Misal, Seorang planner atau perancang produk mempengaruhi metode produksi, sedangkan bagian produski mungkin juga mempengaruhi desain produk dan cara produk digunakan atau metode pembuangannya.
Apakah Anda pernah Melihat Gambar Orang Membuang Sampah pada Kemasan suatu Produk..? Itulah salah satu bentuk "Mempengaruhi".

Dalam penerapannya, oraganisasi dapat memilih bagian dari siklus hidup dimana organisasi memiliki kendali atau pengaruh terbesar sehingga dapat meminimalkan penggunaan sumber daya (pemborosan) serta mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Bagaimana Membuktikan Bahwa Organisasi Sudah Menerapkan LCP Kepada Auditor..?


LCP merupakan hal baru dalam Sistem Manajemen Lingkungan, sehingga sangat mungkin akan banyak perbedaan pendapat pada badan sertifikasi atau auditor tentang bukti penerapan Perspektif Siklus Hidup.

Oleh karena itu, sebaiknya lakukan diskusi yang mendalam mengenai Bukti seperti apa yang diminta oleh auditor untuk meyakinkan bahwa LCP telah diterapkan.


Referensi :
https://committee.iso.org/
http://envcompsys.com/

Permenaker 26 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Penilaian Penerapan SMK3

Permenaker 26 Tahun 2014 - Sesuai dengan PP 50 Tahun 2012 tentang penerapan SMK3, bahwa efektivitas terhadap perlindungan K3 yang dilakukan dengan menerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu dilakukan penilaian. Penilaian Penerapan SMK3 sering juga disebut dengan Audit SMK3.

Baca Juga : PP 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan SMK3

Audit SMK3 adalah pemeriksaan secara sistematis dan independen terhadap pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan untuk mengukur suatu hasil kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam penerapan SMK3 di perusahaan.

Permen, Permenaker no 26 tahun 2014 tentang audit SMK3, Penilaian penerapan SMK3, Reguasi tentang Audit SMK3, Peraturan tentang Audit SMK3, Safety, Sistem Manajemen,


Penerapan SMK3 sendiri wajib bagi perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh paling sedikit 100 orang, atau memiliki risiko yang tinggi.

Perusahaan yang telah menerapkan SMK3 akan dilakukan Audit eksternal oleh lembaga Audit SMK3 yang ditunjuk oleh Menteri Ketenagakerjaan.

Pada Permenaker ini akan dibahas secara jelas mengenai :
  1. syarat menjadi Lembaga Audit SMK3, 
  2. Auditor SMK3 (Senior dan Junior)
  3. Kewajiban Auditor SMK3
  4. Wewenang Auditor SMK3
  5. Mekanisme Audit SMK3
  6. Penilaian Hasil Audit (Kritikal, Mayor, Minor)
  7. dan lain-lain
Dengan dikeluarkannya Permenaker 26 tahun 2014 ini maka beberapa regulasi di bawah ini Sudah TIDAK BERLAKU:
  1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
  2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.18/MEN/XI/2008 tentang Penyelenggara Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja; dan
  3. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.19/MEN/1997 tentang Pelaksanaan Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Untuk lebih jelasnya tentang bagaimana Audit SMK3 dan ketentuan lainnya mengenai penilaian Penerapan SMK3 dapat dibaca pada Permenaker 26 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Penilaian Penerapan SMK3

Daerah Berbahaya Pada Pekerjaan Di Ketinggian

Bekerja Pada Ketinggian - Pekerjaan di atas ketinggian merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki risiko tinggi, oleh karena itu pekerjaan ini diatur khusus dan rinci di dalam regulasi pemerintah. Kementrian Ketenagakerjaan telah mengeluarkan Permenaker No 09 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pekerjaan di Ketinggian.

Baca Juga : Permenaker No 09 Tahun 2016 Tentang K3 Pekerjaan di Ketinggian

Pada pembahasan kali ini, darmawansaputra.com akan menitik beratkan pada daerah berbahaya saat melakukan pekerjaan di ketinggian.

Bekerja di ketinggian, Aturan Pekerjaan di atas Ketinggian, Pekerjaan di ketinggian, working at height permit, Safety, Safety and health, area berbahaya pekerjaan di ketinggian, peraturan tentang bekerja di ketinggian


Di dalam Permenaker No 09 Tahun 2016 pasal 7 disebutkan bahwa "Setiap pengusaha dan / atau pengurus wajib memasang perangkat pembatasan daerah kerja untuk mencegah masuknya orang yang tidak berkepentingan".

Pembatasan daerah kerja tersebut dbagi menjadi 3 kategori wilayah berdasarkan tingkat bahaya dan dampak terhadap keselamatan umum dan pekerja, yaitu:

1. Wilayah Bahaya


Wilayah bahaya merupakan area yang memiliki tingkat risiko paling tinggi, wilayah ini merupakan wilayah dimana pekerjaan dilakukan, sehingga terdapat pergerakan tenaga kerja dan barang yang bergerak vertikal (diangkat) dan juga bergerak horizontal, serta adanya titik penambatan.

Wilayah bahaya hanya boleh dimasuki oleh tenaga kerja dan pengawas ketenagakerjaan.

2. Wilayah Waspada


Di dalam menentukan area waspada ini, tentu perlu adanya perhitungan yang detail mengenai peralatan dan material yang digunakan dalam pekerjaan di atas ketinggian. Wilayah waspada merupakan area diantara wilayah bahaya dan wilayah aman yang telah dilakukan perhitungan untuk menentukan luasannya sehingga barang ataupun material yang jatuh tidak masuk ke wilayah aman.

Sebagai contoh : Ada suatu pekerjaan diketinggian dengan menggunakan perancah (scaffolding) dengan ketinggian 15 meter, karena alasan tertentu perancah tersebut ambruk.

Nah... didalam menentukan luasan wilayah waspada perlu memperhatikan jangkauan dari peralatan atau benda yang jatuh. Jika melihat contoh kasus di atas tentu jangkauannya adalah minimal 15 meter (sesuai tinggu perancah). Namun yang perlu diperhatikan adalah penambahan clearence area dengan pertimbangan adanya lentingan atau bagian yang terlontar akibat adanya hempasan di tanah. sehingga wilayah waspada berkisar sekitar 20 meter dari wilayah bahaya (jika penambahan clearence 5 meter).

Wilayah waspada juga hanya boleh dimasuki oleh tenaga kerja dan pengawas ketenagakerjaan.

3. Wilayah Aman

Wilayah aman merupakan wilayah yang tidak mengganggu aktivitas tenaga kerja dan juga terbebas dari kemungkinan kejatuhan material yang digunakan pada pekerjaan di ketinggian.

Pada wilayah ini siapapun sudah boleh memasuki.

Untuk memudahkan dalam mengidentifikasi batasan wilayah bahaya, waspada, dan aman perlu adanya penanda yang mudah dilihat oleh siapapun. Dan perlu dibuatkan denah horizontald dan vertikal agar dapat digunakan sebagai pedoman bagi tenaga kerja, penanggung jawab lokasi, dan pengawas ketenagakerjaan.

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017 "Connecting People To Nature"

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2017 - PBB telah mengeluarkan tema resmi untuk perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017, dalam situs resminya UNEP merilis tema "Connecting People To Nature".

Hari Lingkungan merupakan perayaan tentang Pelestarian Lingkungan yang diselenggarakan pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya secara serentak di seluruh dunia. Untuk perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017 yang ditunjuk selaku tuan rumah adalah Kanada.

Tema hari lingkungan "Connecting People to Nature" sendiri mengajak Kita semua untuk kembali berpikir bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta. Kehidupan manusia sangat bergantung pada alam, tentu ini memberikan peluang bagi manusia untuk mencari solusi yang tepat bagaimana menyelaraskan kebutuhan manusia dengan kelestarian lingkungan. Ini merupakan hubungan yang sangat Vital, karena manusia membutuhkan ruang untuk hidup seiring bertambahnya jumlah penduduk yang sudah barang tentu juga akan menambah kebutuhan akan sumberdaya.

Tema Hari Lingkungan Hidup 2017, environment, World Environment day 2017, Topik hari Lingkungan sedunia 2017, apa tema hari lingkungan 2017, WED 2017 theme


Bagitu banyak keperluan hidup manusia yang disajikan oleh Alam, Oksigen, Air, Sumber makanan, Sumberdaya alam, dan lain sebagainya. Namun, akhir-akhir ini begitu banyak kerusakan di alam yang mengatasnamakan kebutuhan hidup seperti mengubah area resapan air menjadi komplek pemukiman, membunuh hewan untuk dijual, penyiksaan terhadap satwa liar, pembuangan sampah dan limbah di badan air.

Konsep Etika Lingkungan Berkaitan Dengan Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya, dan memiliki peranan yang besar terhadap lingkungan. Berbagai macam aktivitas dan pengembangan ilmu pengetahuan dilakukan untuk mendukung kepentingan manusia, namun pada akhirnya banyak degradasi pada lingkungan justru tercipta.

etika lingkungan merupakan suatu pendekatan untuk menyadarkan manusia tentang paradigama yang belum sesuai saat memanfaatkand dan mengelola alam semesta. Beberapa konsep etika lingkungan yang dikembangkan oleh manusia yaitu antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme. Setiap konsep dan teori tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menilai kebergantungan antara manusia dengan lingkungannya.

Konsep Antroposentrisme merupakan teori yang mengutamakan kepentingan manusia sebagai bagian terpenting. jadi dalam antroposentrisme, manusia dan kepentingan manusia memiliki nilai tertinggi. Konsep ini yang dianggap sering enimbulkan masalah pada lingkungan.

Konsep Biosentrisme merupakan suatu keyakinan bahwa kehidupan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan seluruh alam. Dalam Biosentrisme manusia dianggap sebagai salah satu makhluk hidup dari alam semesta yang mempunyai rasa saling ketergantungan dengan makhluk hidup lainnya di alam semesta.

Konsep Ekosentrisme merupakan konsep yang berkeyakinan bahwa makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri.

Biosentrisme dan ekosentrisme sendiri sering dianggap sama, kedua konsep ini bertujuan merupabah paradigma Antroposentrisme.


Apa yang bisa Anda Lakukan untuk Mendukung Program ini..?

Tentu tujuan utama dari dilaksanakan Hari Lingkungan ini bukanlah seremonial belaka, melainkan action nyata. Setiap masyarakat diharapkan ikut serta dalam mengelola lingkungan, untuk menunjukkan keikutsertaan dalam mendukung tema hari lingkungan hidup 2017 tidak harus mengikuti seremonialnya, ini dapat dilakukan dalam lingkup kecil yaitu keluarga dan tindakan keseharian.

Perorangan
  1. Jangan membuang sampah sembarangan
  2. Berkomitmen untuk memungut sampah jika menemukannya
  3. Gunakan listrik secara bijak, matikan peralatan listrik yang tidak digunakan 
  4. Menanam pohon di halaman rumah
  5. Menggunakan air secara bijak
  6. Membuat sumur resapan
  7. Makan sesuai kebutuhan (consume with care)
  8. Tidak membakar Hutan
  9. Tidak membunuh satwa liar (tidak berlaku untuk hewan yang memang untuk keperluan dikonsumsi)
  10. Matikan kendaraan saat diparkir

Pekerja/ Karyawan
  1. Gunakan kertas secara bijak, bila perlu print bolak balik atau gunakan kertas bekas.
  2. Gunakan kendaraan umum untuk berangkat dan pulang kantor
  3. Tidak membuang limbah ke lingkungan
  4. Segera melakukan penghijauan untuk lahan yang dibuka
Itu beberapa contoh kecil sebagai bentuk ikut serta mendukung tema hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017 "Connecting People to Nature". Mari untuk menjaga kelestarian lingkungan, lakukan hal sekecil apapun yang berdampak pada kelestarian lingkungan.

5 Analogi Yang Bisa Digunakan Safety Officer Untuk Meyakinkan Manajemen Perusahaan

Sebagai seorang praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentu Anda ingin memastikan bahwa segala aspek K3 di tempat kerja bisa dipenuhi dan dijalankan, tentu semua ini memerlukan budget.. Tapi kadang misi ini tidak berjalan dengan mulus, ada kendala yang dihadapi ketika berbicara tentang biaya (budget) pada manajemen level atas.

Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja kerap sekali dianggap sebagai pemborosan, baik dari segi keuangan dan waktu. Sehingga sering dibandingkan dengan program lain yang lebih berdampak pada keuntungan atau program untuk memenuhi peraturan yang jika tidak dipenuhi akan menghambat operasional.

Itu hal yang sangat lumrah terjadi ketika manajemen belum yakin bahwa biaya untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan investasi jangka panjang.. oleh karena itu, merupakan tugas Anda sebagai Safety Officer untuk menyajikan data yang dapat meyakinkan manajemen.

Untuk menyakinkan manajemen, tentu Anda harus menyajikan data yang akurat yang dapat menjelaskan secara gamblang (jelas) yang berorientasi pada "keuntungan".

menghitung biaya kecelakaan, konversi kerugian kecelakaan dengan penjualan, bagaimana meyakinkan manajemen tentang safety, meningkatkan budaya K3 di level menajamen, Biaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Gunakan Analogi Yang Tepat Untuk Meyakinkan Manajemen

Pada artikel sebelumnya tentang Kerugian akibat kecelakaan, sudah dijelaskan bahwa rasio perbandingan kerugian langsung dan kerugian tidak langsung bisa mencapai 1 : 53. Tentu ini bisa Anda gunakan untuk membuat simulasi-simulasi yang menerangkan betapa besarnya kerugian perusahaan jika Penerapan K3 disuatu perusahaan tidak diperhatikan..

Sajikan data-data tersebut dalam hitungan yang jelas, Anda bisa menggunakan analogi berikut:

Mewakili Berapa Persen dari Gaji Karyawan, penerapan K3LH yang buruk akan menambah biaya. Misal, biaya akibat satu kali kecelakaan yang terjadi (direct & Indirect cost) setara dengan 20% total gaji yang dibayarkan dalam 1 bulan.  

Mempengaruhi Peningkatan Jumlah Produksi, Penerapan K3LH yang buruk akan mengakibatkan gap antara jumlah produski dan keuntungan. Misal, karena terjadi kecelakaan maka kita memerlukan penambahan produksi 10% lebih banyak untuk menutupi kerugian akibat kecelakaan. Atau Anda bisa menggunakan analogi lain, seperti "pekerjaan kita 10 hari ini hanya untuk membayar kerugian akibat kecelakaan yang terjadi".

Mempengaruhi Biaya Produksi, Jika K3LH tidak diperhatikan maka akan mengurangi biaya produksi. Misal, dari 100jt biaya produksi, 30jt diantaranya adalah biaya untuk kecelakaan. Tentu ini akan mengurangi kualitas produk yang dihasilkan atau mengurangi keuntungan.

Meningkatkan Jumlah Penjualan, Buruknya Kinerja K3LH harus dibayar dengan peningkatan jumlah penjualan agar tetap mendapat keuntungan. Misal, karena adanya kecelakaan perusahaan mengalami kerugian 100jt, untuk menutupi kerugian tersebut maka perusahaan harus menambah penjualan sebesar sekian unit agar margin keuntungan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Biaya Per Karyawan, Akibat buruknya penerapan K3LH, maka perusahaan mengalami kerugian. Biaya kerugian tersebut setara dengan biaya kesejahteraan karyawan sebesar 20jt per orang dalam setahun.

Itulah beberapa analogi yang bisa Anda gunakan untuk dapat membantu meyakinkan manajemen tentang pentingnya biaya yang digunakan untuk program Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Baiklah, Saya akan menambahkan ilustrasi dengan menggunakan grafik perbandingan jumlah produksi dan biaya.

menghitung biaya kecelakaan, konversi kerugian kecelakaan dengan penjualan, bagaimana meyakinkan manajemen tentang safety, meningkatkan budaya K3 di level menajamen, Biaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Sumber : www.asse.org
Pada grafik di atas terlihat bahwa ketika pendapatan (revenue) setara dengan total biaya operasional (fixed cost + variable cost) akan terjadi break even (keseimbangan), sehingga perlu adanya penambahan produksi untuk meningkatkan penjualan agar didapatkan  keuntungan.

yang jadi pertanyaan adalah "Berapa besar penjualan yang harus dilakukan untuk menutupi kerugian akibat kecelakaan..?"

Pada saat melakukan investasi, tentu investor telah menentukan margin keuntungan yang diharapkan. Inilah yang akan dijadikan acuan seberapa besar tambahan penjualan yang harus dilakukan untuk menutupi kerugian akibat kecelakaan.

Sebagai contoh, Jika investor menargetkan margin sebesar 5% dari investasi yang dilakukan. Ketika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan kerugian sebesar Rp 100jt. Maka untuk menutupi kerugian tersebut, harus dilakukan penambahan penjualan sebesar Rp 2M.

Jumlah yang cukup fantastis, yang akan membuat semua manajemen berpikir berkali-kali untuk menolak budget pengelolaan K3LH. Dari mana angka Rp 2M..?

ingat...margin 5% tidak pernah bisa dirubah.. sehingga angka 2M di dapat dari (100jt /5%) x 100%.

Itulah angka penjualan yang perlu dicapai sehingga perusahaan mengalami keuntungan dengan margin tetap 5 %.

Demikian ulasan sederhana yang bisa Anda gunakan untuk memberikan data yang rasional kepada Manajemen perusahaan sehingga mereka yakin bahwa biaya yang dikeluarkan untuk keperluan Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan investasi. Jika mereka sudah percaya, maka mereka tidak akan berpikir panjang untuk menyetujui proposal yang Anda ajukan.

Referensi:
  1. Accident Cost- Rethinking ratios of indirect to direct cost by Fred A. Manuele
  2. http://www.nsc.org/




Kerugian Kecelakaan Diibaratkan Seperti Gunung Es, Inilah Kenapa Pengusaha Sering Terlena

Teori Gunung Es - Untuk membuktikan apakah Biaya yang dikeluarkan untuk Keselamatan Kerja termasuk "Pemborosan" atau "Investasi", Anda harus mengetahui kerugian apa saja yang bisa terjadi jika ada kecelakaan di tempat kerja...

Kerugian akibat kecelakaan kerja merupakan jumlah kerugian untuk korban ditambah dengan kerugian-kerugian lain (material dan non material) akibat dari kecelakaan tersebut.

Menurut Teori yang dikemukakan oleh Frank E Bird Jr, bahwa kerugian akibat kecelakaan diibaratkan seperti gunung es yang ada di air... bagian yang nampak di permukaan justru lebih kecil dibanding dengan bagian yang tidak terlihat...

Kerugian-kerugian akibat kecelakaan kerja  sendiri dikenal dengan Kerugian Langsung dan Kerugian Tidak Langsung

Teori Gunung Es ini menjelaskan bahwa bagian yang nampak di permukaan merupakan kerugian langsung (kerugian yang diasuransikan), sedangkan bagian yang tidak terlihat adalah kerugian tidak langsung (kerugian yang tidak diasuransikan).

Safety, Biaya langsung dan biaya tidak langsung akibat kecelakaan kerja, Direct cost and indirect cost incident, Teori gunung es biaya kecelakaan, Iceberg thoery incident cost, jenis biaya kecelakaan kerja,


Rasio Kerugian Langsung dan Kerugian Tidak Langsung Kecelakaan Menurut Heinrich

Pada tahun 1931, Heinrich merilis hasil study yang dilakukan pada tahun 1926 tentang biaya kecelakaan. Didapat bahwa rasio perbandingan biaya langsung dan tidak langsung adalah 1 : 4.

Heinrich menulis hasil penelitian dan analisa diperoleh bahwa biaya yang keluarkan jika terjadi kecelakaan adalah 4 kali lebih besar dibanding dengan biaya pengobatan pekerja yang mendapat cidera.

Rasio biaya kecelakaan ini banyak menjadi literatur di berbagai buku yang membahas mengenai kerugian kecelakaan. Walaupun penelitiannya dilakukan pada tahun 1926, namun hasil penilitian masih diakui banyak orang.

Kerugian Kecelakaan Menurut Frank E Bird Jr

Pada tahun 1974, Bird memperkenalkan teori gunung es tentang biaya kecelakaan. Pada teori gunung es ini, Bird Jr menerangkan bahwa Biaya dari kecelakaan sebenarnya dapat diukur dan dapat dikontrol. Teori Gunung es yang dikemukakan Bird Jr menunjukkan bahwa kerugian dari kecelakaan dikategorikan menjadi biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan.

Tahun 1985, F.E. Bird Jr. dan G.L. Germain mengemukakan biaya apa saja yang masuk ke dalam kategori biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan.

Iceberg - F.E. Bird Jr. dan G.L. Germain; 1985
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa biaya yang diasuransikan (biaya kompensasi dan biaya medis) cukup kecil bila dibandingkan dengan biaya yang tidak diasuransikan. 

Pada level terkecil, perbandingan antara biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan adalah 1 : 6. Dimana 1 merepresentasikan biaya diasuransikan, dan 6 adalah biaya yang tidak diasuransikan (5 untuk kerusakan harta benda + 1 untuk biaya lainnya).

Sedangkan untuk level maksimum, perbandingan antara biaya yang diasuransikan dan biaya yang tidak diasuransikan mencapai 1 : 53 (dimana 53 adalah 50 untuk biaya kerusakan harta benda + 1 untuk biaya lainnya)

Ini menjelaskan bahwa biaya yang tidak diasuransikan akibat kecelakaan yang terjadi bisa mencapai 53 kali lebih besar dibanding biaya kompensasi dan pengobatan korban.

Apa Saja Biaya Yang Termasuk Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung Kecelakaan..?

Untuk mengetahui biaya apa saja yang masuk ke Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung akibat Kecelakaan dapat mengacu pada teori gunung es di atas.

Biaya langsung (direct cost) merupakan biaya yang langsung dikeluarkan oleh perusahaan akibat kecelakaan yang terjadi, Sepeti biaya pengobatan pekerja yang cidera dan biaya kompensasi sesuai regulasi yang berlaku.

Yang termasuk biaya langsung adalah : Biaya pengobatan dan biaya kompensasi karyawan yang mendapat cidera.

Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) merupakan biaya lain diluar biaya langsung yang juga dihitung sebagai kerugian akibat kecelakaan. Biaya ini memang sulit untuk dihitung, namun bisa dikonversikan sehingga bisa dihitung.

Yang termasuk Biaya tidak Langsung Kecelakaan diantaranya:
  1. Biaya Kerusakan bangunan
  2. Biaya Kerusakan alat/mesin yang digunakan
  3. Biaya perbaikan peralatan
  4. Biaya karena terhentinya produksi
  5. Biaya karena banyaknya pekerja lain yang terhenti mengikuti investigasi
  6. Biaya dari pengawas yang juga ikut investigasi
  7. Akomodasi lainnya
  8. Biaya lembur karyawan
  9. dan lain-lain
Cukup banyak sekali biaya yang dikeluarkan akibat kecelakaan yang terjadi, itu semua dihitung sebagai kerugian dan akan mengurangi profit.

Mengapa Anda saya ajak membahas ini, tentu ini akan berkaitan dengan bagaimana Anda membuktikan bahwa Biaya / budget tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan "Pemborosan" atau "Investasi" (Kita akan ulas pada artikel selanjutnya)

Demikian pembahasan mengenai teori Gunung Es (Iceberg) yang membahsa mengenai biaya langsung dan biaya tidak langsung akibat kecelakaan kerja. Dengan mengetahui ini, harapannya sebagai Praktisi K3, kita jangan hanya melihat biaya langsung saja dalam mengkalkulasi kerugian kecelakaan. Namun, mengikutkan biaya tidak langsung yang sebenarnya lebih besar dalam total kerugian kecelakaan di statistik perusahaan.

Referensi :
  1. Rethinking ratios of Indirect to Direct Costs by Fred A. Manuele
  2. https://www.wcf.com/hidden-costs-accidents
  3. http://www.preston.gov.uk/businesses/health-and-safety/accidents/costs-accidents/

Keselamatan Kerja Itu "PEMBOROSAN" Atau "INVESTASI"..?

ROI of Safety - Keselamatan Kerja merupakan bagian yang tidak terpisah dari suatu bidang usaha, bahkan keselamatan kerja disebut sebagai hak bagi setiap pekerja untuk mendapatkan perlindungan saat bekerja sehingga bisa bekerja lebih aman dan tidak terjadi kecelakaan...

Yang jadi pertanyaan, apakah menerapkan keselamatan kerja menjadi mudah walaupun semua tahu bahwa keselamatan kerja itu penting...?

...Tidak juga..

Biaya Keselamatan Kerja, Budget untuk safety, Meyakinkan manajemen tentang keselamatan kerja, Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Safety, safety itu biaya atau investasi,


...kita melihat dari sisi pekerja terlebih dahulu..

walaupun perusahaan sudah menyediakan alat pelindung diri ataupun membuat peraturan yang bisa membantu karyawan agar lebih aman saat bekerja, masih juga ditemukan pekerja tidak mau memakai atau mengikuti aturan tersebut... dan yang terjadi adalah kecelakaan..

Terus dari sisi Manajemen... Meyakinkan manajemen terkait pentingnya safety lebih sulit dibanding dengan karyawan... terutama jika berkaitan dengan biaya..

Biaya yang dikeluarkan untuk Keselamatan Kerja dinilai menjadi biaya yang tidak menghasilkan profit bagi pemilik modal... oleh karena itu tidak jarang bahwa masih banyak manajemen perusahaan yang enggan mengeluarkan biaya untuk menunjang program Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


Biaya Keselamatan Kerja Adalah Sasaran Utama Efisiensi Biaya Operasional

Safety, Biaya Keselamatan Kerja, Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Budget untuk safety, Meyakinkan manajemen tentang keselamatan kerja, safety itu biaya atau investasi,

Paradigma manajemen seperti itu wajar saja.. karena tujuan dari bisnis adalah keuntungan...untuk mencapai keuntungan yang maksimal tentu operasional harus didesain lebih lean dengan meminimalkan biaya operasional...

Biaya-biaya yang tidak menghasilkan keuntungan akan ditekan, termasuk didalamnya adalah biaya tentang Safety..

Mengapa begitu...? Coba Anda lihat contoh kasus berikut..

"jika Anda membeli mobil dengan merk tertentu, coba bandingkan antara mobil dengan grade rendah dan grade yang tinggi, kira-kira apa yang membedakan sehingga harganya berbeda...?

Anda akan menemukan bagian-bagian yang berkaitan dengan Safety dihilangkan, misalnya Air bag, Seat Belt lebih jelek kualitasnya, dan lain-lain.

Itu menandakan bahwa aspek safety akan menjadi sasaran utama efisiensi biaya operasional...

Ini merupakan tugas Bagian Keselamatan Kerja untuk meyakinkan manajemen tentang biaya K3 merupakan suatu investasi bukan hanya biaya yang tidak menghasilkan keuntungan...sehingga bisa mengalokasikan biaya untuk aspek Keselatan Kerja.

Bagaimana Cara Meyakinkan Manajemen Tentang Biaya Safety Adalah Investasi..?

Safety, Biaya Keselamatan Kerja, Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Budget untuk safety, Meyakinkan manajemen tentang keselamatan kerja, safety itu biaya atau investasi,

Sekali lagi bahwa meyakinkan manajemen adalah tantangan besar, namun bukan berarti hal ini tidak mungkin.

Sebalum Anda mencoba meyakinkan manajemen terkait pentingnya biaya Safety, tentu Anda harus memiliki senjata yang tepat..

...Senjata yang paling ampuh adalah Menunjukkan besarnya Keuntungan jika menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja...

Sebelum Anda mengajukan alasan ke manajemen, tentu Anda harus mengumpulkan biaya-biaya jika terjadi gangguan yang berkaitan dengan Keselamatan Kerja seperti kecelakaan dan karyawan sakit...

Anda harus mengkalkulasikan biaya langsung dan biaya tidak langsung pada suatu kasus kecelakaan..

...Sehingga Anda bisa mengkonversikannya dengan kerugian perusahaan jika tidak menerapkan Keselamatan Kerja...

 yang perlu disiapkan didalam melakukan analisa biaya pada suatu kecelakaan tentu Anda harus memahami apa itu biaya langsung dan biaya tidak langsung..

Untuk mengetahui lebih tentang biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam Kecelakaan akan kita bahas pada artikel selanjutnya..

Anda akan mengetahui seberapa besar biaya tidak langsung dibanding dengan biaya langsung kecelakaan.. Jika Anda menyajikan perhitungan yang rasional, maka meyakinkan manajemen tentang biaya Safety adalah Investasi bukanlah hal yang tidak mungkin..

Permenkes No 70 Tahun 2016 Tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Permenkes No 70 Tahun 2016 - Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan kembali mengeluarkan regulasi baru, peraturan ini mengatur tentang standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja.

Pengelolaan bahaya kesehatan di lingkungan kerja industri maupun pemenuhan persyaratan kesehatan lingkungan merupakan salah satu aspek penting dalam penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.

Safety, Permen, Permenkes no 70 tahun 2016, regulasi tentang standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja, Peraturan terbaru tentang kesehatan lingkungan kerja, Faktor fisik tempat kerja,


Lingkungan kerja industri yang sehat merupakan salah satu faktor yang menunjang meningkatnya kinerja dan produksi yang secara bersamaan dapat menurunkan risiko gangguan kesehatan maupun penyakit akibat kerja. Lingkungan kerja industri harus memenuhi standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri sebagai persyaratan minimal yang harus dipenuhi.

Standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri terdiri atas nilai ambang batas, indikator pajanan biologi, dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri. Ketentuan mengenai standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri sebelumnya telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.

Namun demikian seiring dengan perkembangan industri yang pesat dengan melibatkan teknologi dan proses yang bervariasi, dapat berpeluang munculnya variasi bahaya kesehatan yang berpotensi memajan bekerja. Oleh karena itu perlu dilakukan penyesuaian atau perubahan terhadap Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/200.

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri sepanjang mengatur standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.


Untuk lebih jelas mengenai Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja dapat dilihat pada Lampiran Permenkes No 70 Tahun 2016 Tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Anda Alergi Makanan..? Tips Yang Bisa Anda Lakukan Di Tempat Kerja

Alergi merupakan masalah yang bisa terjadi pada siapapun, dampak yang ditimbulkan juga sangat bervariasi tergantung tingkat keparahan alerginya.. dari ringan sampai fatal yang memerlukan penanganan medis darurat..

Definisi dari alergi sendiri adalah bentuk reaksi kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap bahaya walaupun sebenarnya tidak, yang bisa berbentuk sesuatu yang masuk ke tubuh ataupun bersentuhan...

Alergen atau substansi pemicu alergi hanya berdampak pada orang yang memiliki alergi tersebut. Pada orang lain, alergen tersebut tidak akan memicu reaksi kekebalan tubuh. Beberapa jenis substansi yang dapat menyebabkan reaksi alergi meliputi gigitan serangga, tungau debu, bulu hewan, obat-obatan, makanan tertentu, serta serbuk sari.

Saat tubuh pertama kali berpapasan dengan sebuah alergen, tubuh akan memproduksi antibodi karena menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Jika tubuh kembali berpapasan dengan alergen yang sama, tubuh akan meningkatkan jumlah antibodi terhadap jenis alergen tersebut. Hal inilah yang memicu pelepasan senyawa kimia dalam tubuh dan menyebabkan gejala-gejala alergi.

Safety, Health, Cara mengatasi alergi makanan, Pengelolaan alergi makanan di tempat kerja, Gejala-gejala alergi, Dampak alergi makanan, Alergi, Obat Alergi,


Gejala Yang Ditimbulkan Saat Mengalami Alergi

Ada beberapa gejala alergi yang umum terjadi, antara lain:
  • Bersin-bersin.
  • Batuk-batuk.
  • Sesak napas.
  • Ruam pada kulit.
  • Hidung beringus.
  • Terjadi pembengkakan di bagian tubuh yang berpapasan dengan alergen, misalnya wajah, mulut dan lidah.
  • Gatal dan merah pada mata.
  • Mata berair.
Bagaimana Langkah Pengendalian Jika Anda Mengalami Alergi Makanan Di Tempat Kerja

Memiliki alergi terhadap makanan saat di temat kerja bisa berdampak kurang baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap pekerjaan. terutama jika dampak alerginya sangat parah atau sering disebut dengan anafilaksis. Jika tidak tertolong dapat berakibat kematian pada penderitanya.

..Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko di tempat kerja jika Anda memiliki alergi terhadap makanan.

Langkah Yang Perlu Anda Lakukan Jika Memiliki Keluhan Alergi Makanan

  • Jika Anda merupakan pekerja baru pada suatu tempat kerja, tentu Anda wajib memberitahukan tentang keluhan alergi Anda kepada atasan Anda.
  • Jelaskan secara detail tentang jenis alergen apa yang bisa menyebabkan Anda alergi dan tingkat keparahannya, gejala pada tubuh Anda. Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi..
  • Ceritakan ke rekan kerja Anda, Dimana Anda Meletakkan obat alergi Anda dan bagaimana menggunakannya saat terjadi kondisi darurat.
  • Cobalah untuk memberi label pada makanan Anda, sehingga Anda tidak salah dalam mengambilnya 
  • Jangan pernah memakan makanan yang menyebabkan alergi, walaupun hanya coba-coba..

Pengendalian terhadap alaergi makanan yang dialami oleh karyawan tentu tidak bisa dilakukan oleh karyawan saja.. manajemen pun bisa menunjukkan perhatiannya kepada karyawan dengan melakukan beberapa hal berikut:

  • Melakukan uji terhadap alergen tertentu kepada karyawan, sehingga bisa dipetakan seberapa banyak karyawan yang mengalami alergi dan jenis alerginya
  • Menyediakan makanan terpisah untuk karyawan yang mengalami alergi tertentu, atau membuat kebijakan lain yang memberikan solusi baik.
  • Fleksible dengan karyawan yang memiliki alergi, sewaktu-waktu mereka akan mengalami sakit karena alergi tersebut.
Tips mengatasi alergi di tempat kerja di atas tentu akan bisa membantu pekerja dan perusahaan untuk dapat meminimalkan risiko terjadinya kondisi darurat akibat terjadinya alergi pada makanan. Peran serta semua pihak dan keterbukaan karyawan terhadap jenis alergen dan keseriusannya akan memberikan solusi yang baik, selain itu pekerja yang memiliki alergi pada substansi tertentu diharapkan selalu membawa obat alerginya..

Silakan Share Jika Bermanfaat... 

Referensi:
http://www.safetyandhealthmagazine.com/articles/14666-managing-food-allergies-in-the-workplace
http://www.alodokter.com/alergi

Sebagai Bagian Keselamatan Kerja, Anda Harus Tahu Yang Mendasari Tindakan Tidak Aman

Human Error Dalam Keselamatan Kerja - Sebagai bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan penyebab kecelakaan. Menurut teori Domino yang dikemukakan oleh Heinrich, bahwa kecelakaan terjadi karena adanya Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) dan Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition)..

Teori ini menjadi cikal bakal munculnya teori terjadinya kecelakaan, dan sekitar tahun 70-an, Frank E Bird, Jr mengembangkan konsep baru tentang teori terjadinya kecelakaan. Konsep ini tidak jauh berbeda dengan yang dikeluarkan oleh Heinrich, hanya saja faktor Tindakan Tidak Aman dan Kondisi Tidak Aman dimasukkan ke dalam penyebab langsung.. karena Bird menganggap bahwa Penyebab dasar (Basic Cause) merupakan Faktor yang berasal dari manajemen..

Safety, Bagaimana terjadinya kecelakaan, Penyebab seseorang melakukan kesalahan, Teori terjadinya kecelakaan, Fakotr yang mempengaruhi human error, Jenis pelanggaran yang mengakibatkan kecelakaan,


Pada artikel kali ini, DarmawanSaputra.Com akan membahas mengenai Tindakan Tidak Aman. Faktor kecelakaan yang satu ini memiliki pengaruh yang besar terhadap kecelakaan yang terjadi.. Menurut Heinrich, bahwa  Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) menyumbang sebesar 80% dari Kecelakaan yang terjadi.

Jika Anda bagian Keselamatan Kerja, Anda pun bisa membuktikan dengan Statistik Kecelakaan di tempat kerja Anda... walaupun hasilnya tidak harus sesuai 80%, namun Tindakan Tidak Aman menjadi kontributor terbesar...

Kesalahan Manusia (Human Error) Merupakan Bentuk Kegagalan Manusia (Human Failure)

Banyak praktisi dan ahli mencoba mendefinisikan mengenai Kesalahan Manusia (human error), namun belum ditemukan pengertian yang cocok untuk menggambarkan human error..

Pada akhirnya, semua ahli sepakat untuk membahas bersama-sama bagaimana Human Error itu bisa didefinisikan.. dan di dapat hasil bahwa..

A Human error is the performance of task such that task’s goal can not achieved and the failure to achieve the goal can not attributed to factors beyond the human operator control.

Kesalahan manusia merupakan kegagalan manusia dalam melakukan suatu tugas sehingga tujuannya tidak dapat dicapai, kegagalan mencapai tujuan ini bukan disebabkan oleh faktor diluar kendali manusia tersebut.

Kegagalan Manusia (Human Failure) Juga Sering Disebut Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act)

Di dalam HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) menguraikan bahwa kegagalan manusia (human failure) atau juga disebut sebagai tindakan tidak aman (unsafe acts) pada dasarnya terdiri dari dua katagori, yaitu kesalahan manusia (human error) dan pelanggaran (violation).

Kesalahan manusia (human error) adalah representasi dari suatu kegiatan mental dan fisik seseorang yang tidak berhasil melakukan sesuatu yang di inginkan. Sedangkan pelanggaran (violation) menunjukkan adanya keinginan untuk mengabaikan petunjuk atau aturan yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu tugas tertent.

Klasifikasi Human Errors, James Reason 1990

Konsep yang dikemukakan oleh James Reason di atas, bahwa di dalam Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) bisa disebabkan karena Human error ataupun pelanggaran (violation).

Bagaimana Human Error Bisa Terjadi...

Human error sendiri diartikan sebagai ketidak sengajaan pada tindakan atau keputusan yang dipengaruhi oleh keterampilan (skill based errors) dan juga kesalahan (mistake).

Kesalahan yang disebabkan oleh keterampilan, dapat membuat seseorang melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan rencana awal atau sering disebut dengan "Slips of Action" dan juga Lupa melakukan sesuatu yang harus dilakukan dalam suatu tugas/aktivitas yang sering disebut dengan "Lapses of Memory".

Sedangkan kesalahan dalam memutuskan (Mistake), dibagi menjadi 2 yaitu kesalahan yang didasari karena aturan (rule based mistake) dan kesalahan yang didasari karena pengetahuan (knowledge based mistake).

Rule based mistake merupakan kesalahan manusia karena tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dilakukan atau melakukan suatu aktivitas yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Knowledge based mistake merupakan kesalahan manusia yang disebabkan karena tidak dmilikinya pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu aktivitas atau tugas.

Yang Cukup Menghawatirkan Adalah Pelanggaran (Violation)

Pelanggaran (violation) merupakan Kegagalan yang disengaja, pelaku sengaja melakukan hal yang salah atau tidak diperbolehkan.

Di dalam beberapa kasus kejadian kecelakaan, pelanggaran memegang peranan yang besar terhadap terhadap terjadinya kecelakaan.

Alasan yang sering muncul adalah "Saya tidak punya alasan lain untuk tidak melakukan hal tersebut" atau "Saya tidak perduli dengan konsekuensi yang akan saya terima".

Pelanggaran ini bisa berupa pelanggaran yang sudah dianggap menjadi kebiasaan (Routine), penggaran karena kondisi tertentu (situational seperti cuaca, peralatan kerja yang tidak sesuai, dan lain-lain), serta mengambil keputusan yang tidak sesuai aturan karena adanya kondisi darurat (exceptinal).

Demikian pembahasan mengenai Kegagalan Manusia (human failure) yang sering disebut dengan Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) dalam konsep terjadinya kecelakaan. Bisa disimpulkan bahwa seseorang melakukan suatu kegagalan sehingga mengakibatkan kecelakaan bisa didasari karena adanya ketidak sengajaan (human error) yang disebabkan karena keterampilan, peraturan, maupun pengetahuan dan juga kegagalan karena disengaja atau sering disebut dengan pelanggaran (violation).

Referensi:
http://www.hse.gov.uk/