Implementasi Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Kepdirjen Minerba 185 Tahun 2019: Dari Konsep ke Praktik Nyata di Lapangan

Dalam industri pertambangan, keselamatan kerja tidak pernah berdiri sendiri. Ia dibangun dari kompetensi dan kompetensi lahir dari pendidikan serta pelatihan yang dirancang dengan benar. Di sinilah peran Kepdirjen Minerba No. 185 Tahun 2019 menjadi krusial, khususnya dalam mengatur bagaimana program pendidikan dan pelatihan harus direncanakan, dilaksanakan, hingga didokumentasikan. 

Implementasi pendidikan dan pelatihan, contoh on the job training, apa beda on the job dan off the job, pelatihan di pertambangan, K3 Pertambangan,

Artikel ini akan membahas secara praktis bagaimana implementasi pendidikan dan pelatihan berdasarkan regulasi tersebut, akan dilengkapi dengan contoh nyata di lapangan dari ketentuan pendidikan dan pelatihan dalam Kepdirjen Minerba No 185.K/37.04/DJB/2019 tentang Petunjuk Teknik Pelaksanaan Keselamatan Pertambangan dan Palaksanaan, Penilaian dan Pelaporan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara berikut.


Implementasi pendidikan dan pelatihan, contoh on the job training, apa beda on the job dan off the job, pelatihan di pertambangan, K3 Pertambangan,
Ketentuan Pendidikan & Pelatihan Kepdirjen 185

1. Fondasi Utama: Training Need Analysis (TNA)

Sebelum pelatihan dilakukan, regulasi menekankan bahwa seluruh program harus berbasis Training Need Analysis (TNA) atau analisis kebutuhan pelatihan. Artinya, pelatihan tidak boleh sekadar formalitas atau “ikut tren”, tetapi harus menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Contoh: Jika sering terjadi near miss pada haul road, maka TNA mengarah pada:

  • Defensive driving
  • Fatigue management
  • Hazard awareness di jalan tambang

Jika banyak kesalahan prosedur di workshop:

  • Pelatihan SOP maintenance
  • Lock Out Tag Out (LOTO)
👉 Tanpa TNA, pelatihan hanya jadi kegiatan administratif, bukan solusi.

2. Metode Pelatihan: On The Job Training (OJT) 

Pelatihan dilakukan langsung di tempat kerja, tanpa meninggalkan aktivitas rutin. Biasanya dibimbing oleh atasan atau pengawas yang kompeten.
Karakteristik: 

  • Praktis dan kontekstual
  • Berbasis pengalaman nyata
  • Dilakukan saat pekerjaan berlangsung

Contoh Nyata di Tambang: 

  • Operator baru dump truck didampingi senior saat hauling
  • Mekanik belajar troubleshooting langsung di unit breakdown
  • Pengawas melakukan coaching saat inspeksi lapangan

Kelebihan: 

  • Cepat meningkatkan skill praktis
  • Lebih relevan dengan kondisi nyata
  • Biaya rendah

Risiko jika salah: 

  • Jika pengawas tidak kompeten → ilmu yang diturunkan salah
  • Jika tidak terstruktur → hanya jadi “ikut-ikutan kerja”

👉 OJT yang buruk = replikasi kesalahan lama.

3. Metode Pelatihan: Off The Job Training
Pelatihan dilakukan di luar area kerja oleh lembaga yang memiliki akreditasi dan kompetensi yang sesuai.
Karakteristik: 

  • Lebih formal dan terstruktur
  • Menggunakan kurikulum standar
  • Trainer bersertifikasi

Contoh: 

  • Pelatihan POP/POM/Pengawas Operasional oleh lembaga resmi
  • Sertifikasi operator alat berat
  • Pelatihan K3 umum dari lembaga pemerintah
  • Simulasi emergency response di training center

Kelebihan: 

  • Standar materi terjamin
  • Mendapat perspektif baru
  • Sertifikasi resmi

Risiko jika salah: 

  • Tidak relevan dengan kondisi lapangan
  • Hanya jadi formalitas untuk compliance

👉 Off the job tanpa integrasi ke lapangan = ilmu tidak terpakai.

4. Peran KTT atau PTL: Bukan Sekadar Menyetujui

Dalam regulasi, Kepala Teknik Tambang (KTT) atau Penanggung Jawab Teknik dan Lingkungan (PTL) memiliki tanggung jawab langsung untuk: 

  • Melaksanakan program pelatihan
  • Memastikan kesesuaian dengan jadwal
  • Mendokumentasikan seluruh kegiatan

Ini bukan tugas administratif—ini adalah kontrol kualitas kompetensi.
Contoh Implementasi: 

  • KTT melakukan review bulanan program pelatihan
  • PTL memastikan pelatihan sesuai dengan risiko operasional
  • Audit internal terhadap efektivitas pelatihan

👉 Jika KTT hanya tanda tangan, sistem pasti gagal.

5. Dokumentasi: Lebih dari Sekadar Absensi

Regulasi mewajibkan dokumentasi lengkap dari setiap kegiatan pelatihan.
Bentuk Dokumentasi: 

  • Absensi peserta
  • Foto kegiatan
  • Video pelatihan
  • Rekaman audio (jika ada)
  • Materi pelatihan
  • Evaluasi hasil pelatihan

Contoh Praktis: 

  • Pelatihan defensive driving direkam video → digunakan untuk evaluasi perilaku
  • Toolbox meeting difoto dan disimpan sebagai bukti pelaksanaan
  • Simulasi emergency direkam untuk analisis respons tim

Kenapa ini penting? 

  • Bukti kepatuhan regulasi
  • Data untuk evaluasi efektivitas
  • Materi pembelajaran ulang, untuk perbaikan kedepannya

👉 Tanpa dokumentasi, pelatihan “tidak pernah terjadi” secara sistem.

6. Masalah yang Sering Terjadi di Lapangan

Mari jujur. Banyak implementasi pelatihan gagal bukan karena tidak ada aturan, tetapi karena: 

  • TNA hanya copy-paste tahun sebelumnya
  • OJT dilakukan tanpa struktur
  • Off the job hanya untuk “sertifikat”
  • Dokumentasi hanya formalitas audit

Akibatnya:
👉 Kompetensi tidak meningkat
👉 Risiko tetap sama
👉 Kecelakaan terus berulang

7. Cara Membuat Sistem Pelatihan yang Benar-Benar Efektif

Berikut pendekatan yang lebih realistis:

  1. Hubungkan TNA dengan data kecelakaan Gunakan incident, near miss, dan unsafe act sebagai dasar
  2. Integrasikan OJT & Off The Job Teori di kelas → praktik di lapangan
  3. Gunakan pengawas sebagai coach, bukan hanya supervisor Fokus pada pembinaan, bukan hanya kontrol
  4. Dokumentasi sebagai alat belajar, bukan arsip Gunakan video/foto untuk refleksi tim
  5. Evaluasi hasil, bukan hanya kehadiran, tapi "Apakah perilaku berubah?", "Apakah risiko menurun?"

Kepdirjen Minerba 185 Tahun 2019 sudah memberikan kerangka yang jelas. Tantangannya bukan pada “apa yang harus dilakukan”, tetapi pada bagaimana melakukannya dengan benar. Pelatihan bukan sekadar program—ia adalah investasi langsung terhadap keselamatan. Dan satu hal yang perlu diingat: Pelatihan yang tidak mengubah perilaku, hanyalah aktivitas.

Demikian pembahasan pendidikan dan pelatihan sesuai Kepdirjen Minerba 185, Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram @darmawans_setiawan, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube "Tanya Safety" untuk mendukung kami..terima kasih..

Posting Komentar untuk "Implementasi Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Kepdirjen Minerba 185 Tahun 2019: Dari Konsep ke Praktik Nyata di Lapangan"